Akan ada sebuah perasaan.
Bahagia, resah, sedih, senang disana.
Hari yang dinantikan akan segera datang.
Hari besar, hari dimana engkau akan menjadi.
Seorang suami, dan calon seorang ayah dimasa depan.
Sekarang kau pasti akan mengira, bahagia sekali setelah pernikahan.
Tentu saja, makan yang sudah tersedia, air hangat dipagi hari.
Oh tentu, itu akan terjadi. Perasaan itu,kebahagiaan itu.
Tapi tunggulah sebentar,
Kebahagiaan itu hanya sementara.
Selanjutnya kau akan merasakan sendiri.
Saat dimana harimu terasa kaku, kau terkurung.
Kau ada dititik dimana kau hanya seorang mesin.
Pencari uang, dan hanya itu.
Perlahan tapi pasti kau akan kehilangan jati dirimu.
Kau akan mulai kehilangan teman teman mu.
Tidak secara langsung tentu nya.
Kau akan mulai merasa aneh, santai saja itu belum final nya.
Kau akan mulai dengan sebuah pertengkaran,
Karena hobi mu, karena keperluan mu yg bahkan harus kau kesampingkan.
Disitulah kau mulai menjadi orang yg bukan dirimu lagi.
Sepulang kerja kau tak boleh tunjukkan wajah lesu mu.
Kau tidak boleh bermuram durja, kau harus tetap tersenyum
Dan yg terpenting, kau harus turuti semua kemauan nya.
Sedikit saja kau melakukan kesalahan, habislah.
Dan ketika istrimu melakukan kesalahan, dengan air matanya, kaulah yg harus meminta maaf
Ironi memang, tapi itu nyatanya. Nanti juga kau akan terbiasa.
Percayalah itu akan terjadi. Sekali lagi kau kehilangan ambisimu.
Bahkan untuk sebuah barang, kau harus melupakan nya.
Bukan nya menakut - nakuti, tapi itu sebenarnya.
Menikahlah dan kau akan merasakan nya.
Dan ketika itu sudah terjadi, tidak ada jalan mundur.
Tidak ada rem, yg ada hanya pijakan gas.
Maka dari itu, pikirkanlah dahulu.
Jumat, 22 Desember 2017
Minggu, 14 Mei 2017
sia sia
jangan tanya kalau semua akan berubah. karena bukan hanya kamu yang ingin dimengerti, tapi aku juga.
aku udah coba buat bertahan tapi nyatanya semua yg kamu katakan tentang akan merubah sikap ternyata hanya bualan saja.
sekuat apapun kita bertahan tetap hasilnya akan sama saja, bukan karena kamu yg tidak bisa mengerti, bukan juga karena aku yang selalu egois. mungkin jalan kita yg memang beda. apa yg aku anggap cuma hal sepele itu menurut kamu adalah hal yg fatal, begitupula sebaliknya. apa yg kamu rasa sepele justru menurutku itu fatal.
walaupun beribu pesan yang sudah kita kirimkan ternyata tak juga bisa meyakinkan, ini itu dan semuanya takkan membuat semua jadi ada artinya. pikiran liar ini menggelora, aku tetap berjalan. hanya memahami dan menjadi yang apa yg bisa dimengerti, walau hanya membuat senyum kecut saja. hingga pada akhirnya, disuatu pagi. aku menyadari kalau aku sudah ada di ambang batas.
aku udah coba buat bertahan tapi nyatanya semua yg kamu katakan tentang akan merubah sikap ternyata hanya bualan saja.
sekuat apapun kita bertahan tetap hasilnya akan sama saja, bukan karena kamu yg tidak bisa mengerti, bukan juga karena aku yang selalu egois. mungkin jalan kita yg memang beda. apa yg aku anggap cuma hal sepele itu menurut kamu adalah hal yg fatal, begitupula sebaliknya. apa yg kamu rasa sepele justru menurutku itu fatal.
walaupun beribu pesan yang sudah kita kirimkan ternyata tak juga bisa meyakinkan, ini itu dan semuanya takkan membuat semua jadi ada artinya. pikiran liar ini menggelora, aku tetap berjalan. hanya memahami dan menjadi yang apa yg bisa dimengerti, walau hanya membuat senyum kecut saja. hingga pada akhirnya, disuatu pagi. aku menyadari kalau aku sudah ada di ambang batas.
Langganan:
Postingan (Atom)